Beranda > Berita Islam Nasional > Karyawati RS Mitra Kembali Tolak Larangan Berjilbab

Karyawati RS Mitra Kembali Tolak Larangan Berjilbab

Ululalbablampung.com — Tujuh bulan lalu, Seorang perawat di Rumah Sakit Mitra dilarang memakai jilbab. Kala itu, perawat di Bagian Fisioterapi, Departemen Rehab Medik, RS Mitra, ini, masuk kantor mengenakan pakaian dinas yang dilengkapi jilbab dan manset. ”Saya absen pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00, saya dipaksa membuat surat pengunduran diri,” tutur gadis 26 tahun ini, getir.

RS Mitra menganggap gadis berusia 26 tahun ini melanggar peraturan perusahaan pasal 17 ayat 4.2 yang isinya, ”Memakai pakaian seragam kerja yang telah ditetapkan berikut perlengkapannya yang sesuai dengan perlengkapan di unit kerja masing-masing.”

Diperlakukan tidak adil, Wine mengontak Tim Pengacara Muslim (TPM). Anggota TPM, Budi Santoso, menilai RS Mitra tidak adil. ”Mereka tidak mau memecat karyawan karena tidak ingin namanya jelek di mata masyarakat yang mayoritas Muslim. Atau, bahkan enggan memberi pesangon,” kata Budi.

Setelah tuntutan tersebut, alih-alih RS Mitra merasa jera dengan tuntuan Wine. Tapi, justru pihak manajemen bersikeras tidak mengabulkan permohonan karyawati. Malah, Surat Peringatan II akan tetap dilayangkan kepada enam karyawati bagian laboratorium Rumah Sakit Mitra Internasional yang bertahan mengenakan jilbab.

Menanggapi kasus larangan berjilbab di RS Mitra yang kembali mencuat, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Wibowo Sukijat, Senin (24/11), menyatakan, ‘Memakai jilbab itu kan tidak salah dan tidak ada larangan bagi praktisi kesehatan. Polwan saja ada yang pakai jilbab kok,”

Kemarin, sekitar pukul 08.00 WIB, beberapa perwakilan karyawati menemui bagian sumber daya manusia (SDM) dan direktur Rumah Sakit Mitra Internasional.

Mereka menyampaikan tuntutan untuk diterapkannya aturan yang memperbolehkan mengenakan jilbab dimajukan dari Juli 2009 menjadi 1 Januari 2009. Mereka kemudian mengimbau manajemen Rumah Sakit Mitra Internasional membolehkan karyawati yang telah mengenakan jilbab untuk tetap berjilbab dalam masa transisi aturan. Terakhir, mereka menyatakan bersedia menanggung biaya perubahan penyeragaman pakaian kerja.

Pertemuan yang dihadiri oleh seluruh koordinator bidang, manajer SDM, dan direktur Rumah Sakit Mitra Internasional itu berlangsung alot. Manajemen bersikeras tidak mengabulkan permohonan karyawati. Malah, Surat Peringatan II akan tetap dilayangkan kepada enam karyawati bagian laboratorium Rumah Sakit Mitra Internasional yang bertahan mengenakan jilbab.

Pada pukul 12.30 WIB, tiga perwakilan karyawati menemui pengacara Luthfi Hakim di kantornya, Jl MT Haryono, Jakarta Selatan. Menurut Luthfi, mereka datang untuk meminta bantuan advokasi hukum agar dibolehkan bekerja sambil mengenakan jilbab. Sebagai tindak lanjut, Luthfi berencana menemui manajemen Rumah Sakit Mitra Internasional pada pekan ini. ”Insya Allah sore ini suratnya kami kirim kepada manajemen Rumah Sakit Mitra Internasional,” katanya.Warno Hidayat, manajer SDM Rumah Sakit Mitra Internasional, mengaku telah memiliki kejelasan aturan, tanpa mau memerincinya. Ia meminta Republika menunggu penjelasan lebih lanjut karena belum berkoordinasi dengan jajaran pejabat Rumah Sakit Mitra Internasional mengenai pemberian tanggapan kepada media.

Akibat larangan jilbab yang kembali terjadi di RS Mitra, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga mengecam tindakan Rumah Sakit Mitra Keluarga sebagai diskriminasi dan pelanggaran HAM berat.

”Tidak boleh melihat orang bekerja hanya dari penampilan fisiknya. Apalagi, ini terkait pilihan menjalankan ajaran agamanya. Penggunaan jilbab merupakan hak individu. Sehingga, tidak diperkenankan ada pihak melarang orang lain menggunakan jilbab dalam kesehariannya,” kata Juru Bicara Komnas HAM, Hesti Armiwulan.Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP), Meutia Hatta Swasono, juga mendukung keberanian Wine memperjuangkan haknya dan menilai Rumah Sakit Mitra Keluarga tidak punya alasan kuat untuk melarang Wine berjilbab.

”Meski rumah sakit memiliki kebijakannya sendiri, harus memerhatikan HAM. Yang dilakukan Rumah Sakit Mitra Keluarga adalah aturan yang melanggar HAM. Mutasi yang ditawarkan RS Mitra Keluarga juga melanggar hak profesi Wine sebagai seorang fisioterapi. Itu jelas tindakan yang salah,” kata Meutia, (rpb/ant/jlm/fani).

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: