Beranda > Ulul Albab in News > Ulul Albab on Lampung Post

Ulul Albab on Lampung Post

Iktikaf, Fokuskan Ibadah karena Allah

BANDAR LAMPUNG–Semua hari dan semua waktu adalah baik. Tetapi, dalam satu hari, sepertiga malam adalah waktu terbaik. Dalam satu minggu, satu hari terbaik adalah Jumat. Sedangkan pada satu tahun, terdapat bulan terbaik yaitu Ramadan yang penuh berkah dalam setiap amalan ibadah yang dikerjakan umat muslim. Dan salah satu ibadah sunah yang dapat dikerjakan dalam bulan Ramadan ialah iktikaf.

Iktikaf adalah menetap di masjid untuk beribadah dan mengingat Allah swt. Sedangkan orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah di dalamnya disebut dengan mu’takif atau aakif. Seorang muslim yang akan melaksanakan iktikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, ia masuk masuk ke tempat iktikafnya sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 dan keluar setelah matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadan.

Direktur Pondok Pesantren Ulul Albab, Jatiagung, Lampung Selatan, Nur Hidayat, mengungkapkan hal itu, Sabtu (20-9). Menurut dia, iktikaf disunahkan pada bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.

“Secara umum tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan. Namun diutamakan dilakukan pada 10 hari terakhir Ramadan. Setelah masuk malam 21 harus benar-benar diniatkan untuk melaksanakan iktikaf hingga hari terakhir Ramadan.”

Rasulullah biasa beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga Allah swt. mewafatkan beliau. Hal tersebut berdasarkan pada Hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan H.R. Bukhari: “Rasulullah biasa beriktikaf setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari, adapun pada tahun ketika beliau wafat, beliau beriktikaf selama dua puluh hari.”

Menurut Nur, pelaksanaan iktikaf dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu. “Sekarang memang banyak panitia yang mengoordinasi iktikaf secara berkelompok. Itu boleh saja untuk mempermudah pelaksanaan. Namun, ibadah ini tidak sah bagi orang yang junub, haid, dan nifas.”

Selama iktikaf, umat muslim senantiasa mengingat Allah dan berusaha memperbanyak amal ibadah. Sunah bagi orang yang beriktikaf adalah menyibukkan diri dan bersungguh-sungguh dengan berbagai macam ibadah, seperti membaca Alquran, zikir, berdoa, beristigfar, dan salat-salat sunah. “Semua amal ibadah dapat dilaksanakan, misalnya tadarus, salat duha, termasuk tidur. Yang tidak boleh yaitu melakukan perbuatan mungkar,” terang mantan Sekretaris Korps Mubalig Islam (KMI) Lampung ini.

Orang yang beriktikaf diperbolehkan keluar masjid untuk kepentingan yang sangat mendesak. Juga dibolehkan menengok orang sakit dan mengiringi jenazah.

Seorang wanita pun boleh mengunjungi suaminya yang sedang beriktikaf dan wanita pun boleh beriktikaf bersama suaminya atau beriktikaf sendirian. Hal itu sesuai dengan ucapan Aisyah, “Rasulullah biasa beriktikaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan sampai akhir hayatnya. Sepeninggal beliau, istri-istrinya pun beriktikaf.”

Syekh Al-Albani berkata, “Di dalam hadis tersebut terkandung dalil yang menunjukkan dibolehkannya wanita beriktikaf.” Tidak diragukan lagi kebolehannya itu dengan syarat ada izin dari walinya untuk melakukan iktikaf. Selain itu, jika keadaannya aman dari fitnah serta tidak berduaan dengan laki-laki nonmuhrim. Karena adanya banyak dalil mengenai hal tersebut dan kaidah fikih yang berbunyi, “menghindari kerusakan harus lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

n CR-3/L-1

(www.lampungpost.com)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: